Tuesday, October 28, 2008

Pilihan

(ngga tau sumbernya, dapet dari imel. klo ada yg tau sumbernya, kasi tau yah...)


Dear para ibu dan calon ibu

Sebuah renungan…, Semoga bermanfaat.

Salam

Saya seorang ibu dengan 2 orang anak , mantan direktur sebuah Perusahaan multinasional. Mungkin anda termasuk orang yang menganggap saya orang yang berhasil dalam karir namun sungguh jika seandainya saya boleh memilih maka saya akan berkata kalau lebih baik saya tidak seperti sekarang dan menganggap apa yang saya raih sungguh sia-sia.

Semuanya berawal ketika putri saya satu-satunya yang berusia 19 tahun baru saja meninggal karena overdosis narkotika.
Sungguh hidup saya hancur berantakan karenanya, suami saya saat ini masih terbaring di rumah sakit karena terkena stroke dan mengalami kelumpuhan karena memikirkan musibah ini.

Putera saya satu-satunya juga sempat mengalami depresi berat dan sekarang masih dalam perawatan intensif sebuah klinik kejiwaan, dia juga merasa sangat terpukul dengan kepergian adiknya. Sungguh apa lagi yang bisa saya harapkan.

Kepergian Maya dikarenakan dia begitu guncang dengan kepergian Bik Inah pembantu kami. Hingga dia terjerumus dalam pemakaian Narkoba.

Mungkin terdengar aneh kepergian seorang pembantu bisa membawa dampak begitu hebat pada putri kami.

Harus saya akui bahwa bik Inah sudah seperti keluarga bagi kami, dia telah ikut bersama kami sejak 20 tahun yang lalu dan ketika Doni berumur 2 tahun. Bahkan bagi Maya dan Doni, bik Inah sudah seperti ibu kandungnya sendiri. Ini semua saya ketahui dari buku harian Maya yang saya baca setelah dia meninggal. Maya begitu cemas dengan sakitnya bik Inah, berlembar-lembar buku hariannya berisi hal ini. Dan ketika saya sakit (saya pernah sakit karena kelelahan dan diopname di
rumah sakit selama 3 minggu) Maya hanya menulis singkat sebuah kalimat di buku hariannya "Hari ini Mama
sakit di Rumah sakit" , hanya itu saja. Sungguh hal ini menjadikan saya semakin terpukul.

Tapi saya akui ini semua karena kesalahan saya. Begitu sedikitnya waktu saya untuk Doni, Maya dan Suami saya. Waktu saya habis di kantor, otak saya lebih banyak berpikir tentang keadaan perusahaan dari pada keadaan mereka. Berangkat jam 07:00 dan pulang di rumah 12 jam kemudian, bahkan mungkin lebih. Ketika sudah sampai rumah rasanya sudah begitu capai untuk memikirkan
urusan mereka. Memang setiap hari libur kami gunakan untuk acara keluarga, namun sepertinya itu hanya seremonial dan rutinitas saja, ketika hari Senin tiba saya dan suami sudah seperti "robot" yang terprogram untuk urusan kantor.

Sebenarnya ibu saya sudah berkali-kali mengingatkan saya untuk berhenti bekerja sejak Doni masuk SMA namun selalu saya tolak, saya anggap ibu terlalu kuno cara berpikirnya. Memang Ibu saya memutuskan berhenti bekerja dan memilih membesarkan kami 6
orang anaknya. Padahal sebagai seorang sarjana ekonomi karir ibu waktu itu katanya sangat baik. Dan ayahpun ketika itu juga biasa-biasa saja dari segi karir dan penghasilan. Meski jujur saya pernah berpikir untuk memutuskan berhenti bekerja dan mau
mengurus Doni dan Maya, namun selalu saja perasaan bagaimana kebutuhan hidup bisa terpenuhi kalau berhenti bekerja, dan lalu apa gunanya saya sekolah tinggi-tinggi? Meski sebenarnya suami saya juga seorang yang cukup mapan dalam karirnya dan penghasilan.

Dan biasanya setelah ada nasehat ibu saya menjadi lebih perhatian pada Doni dan Maya namun tidak lebih dari dua minggu semuanya kembali seperti asal urusan kantor dan karir fokus saya. Dan kembali saya menganggap saya masih bisa membagi waktu untuk mereka, toh teman yang lain di kantor juga bisa dan ungkapan "kualitas pertemuan dengan anak lebih penting dari kuantitas" selalu menjadi patokan saya.

Sampai akhirnya semua terjadi dan diluar kendali saya dan berjalan begitu cepat sebelum saya sempat tersadar. Maya berubah dari anak yang begitu manis menjadi pemakai Narkoba. Dan saya tidak mengetahuinya! !! Sebuah sindiran dan protes Maya saat ini selalu terngiang di telinga.

Waktu itu bik Inah pernah memohon untuk berhenti bekerja dan memutuskan kembali ke desa untuk membesarkan Bagas, putera satu-satunya, setelah dia ditinggal mati suaminya .. Namun karena Maya dan Doni keberatan maka akhirnya kami putuskan agar Bagas dibawa tinggal bersama kami. Pengorbanan bik Inah buat Bagas ini sangat dibanggakan Maya. Namun sindiran Maya tidak begitu saya perhatikan. Akhirnya semua terjadi, setelah tiba-tiba jatuh sakit kurang lebih dua minggu, bik Inah meninggal
dunia di Rumah Sakit.

Dari buku harian Maya saya juga baru tahu kenapa Doni malah pergi dari rumah ketika bik Inah di Rumah Sakit.
Memang Doni pernah memohon pada ayahnya agar bik Inah dibawa ke Singapore untuk berobat setelah dokter di sini mengatakan bahwa bik Inah sudah masuk stadium 4 kankernya.
Dan usul Doni kami tolak hingga dia begitu marah pada kami. Dari sini saya kini tahu betapa berartinya bik Inah buat mereka, sudah seperti ibu kandungnya! Menggantikan tempat saya yang seolah hanya bertugas melahirkan mereka saja ke dunia.

Tragis !

Dan sebuah foto "keluarga" di dinding kamar Maya sering saya amati kalau lagi kangen dengannya. Beberapa bulan yang lalu kami sekeluarga ke desa bik Inah. Atas desakan Maya kami sekeluarga menghadiri acara pengangkatan Bagas sebagai kepala sekolah madrasah setelah dia selesai kuliah dan belajar di pesantren. Dan Doni pun begitu bersemangat untuk hadir di acara itu padahal dia paling susah untuk diajak ke acara serupa di kantor saya atau ayahnya.

Dan difoto "keluarga" itu tampak bik Inah, Bagas, Doni dan Maya tersenyum bersama. Tak pernah kami lihat Maya begitu senang seperti saat itu dan seingat saya itulah foto terakhirnya. Setelah bik Inah meninggal Maya begitu terguncang dan shock, kami sempat merisaukannya dan membawanya ke psikolog ternama di Jakarta.

Namun sebatas itu yang kami lakukan setelah itu saya kembali berkutat dengan urusan kantor.

Dan di halaman buku harian Maya penyesalan dan air mata tercurah.

Maya menulis :
"Ya Tuhan kenapa bik Inah meninggalkan Maya, terus siapa yang bangunin
Maya, siapa yang nyiapin sarapan Maya, siapa yang nyambut Maya kalau
pulang sekolah, Siapa yang ngingetin Maya buat berdoa, siapa yang Maya
cerita kalau lagi kesel di
sekolah, siapa yang nemenin Maya kalo nggak bisa tidur....... ...Ya Tuhan ,
Maya kangen banget sama bik Inah" bukankah itu seharusnya tugas saya
sebagai ibunya, bukan bik Inah ?

Sungguh hancur hati saya membaca itu semua, namun semuanya sudah terlambat tidak mungkin bisa kembali, seandainya semua bisa berputar kebelakang saya rela berkorban apa saja untuk itu. Kadang saya merenung sepertinya ini hanya cerita sinetron di TV dan saya pemeran utamanya. Namun saya tersadar ini real dan kenyataan yang terjadi.

Sungguh saya menulis ini bukan berniat untuk menggurui siapapun tapi sekedar pengurang sesal saya semoga ada yang bisa mengambil pelajaran darinya. Biarkan saya yang merasakan musibah ini karena sungguh tiada terbayang beratnya.

Semoga siapapun yang membaca tulisan ini bisa menentukan "prioritas hidup dan tidak salah dalam memilihnya". Biarkan saya seorang yang mengalaminya.

Saat ini saya sedang mengikuti program konseling/therapy untuk menentramkan hati saya.
Berkat dorongan seorang teman saya beranikan tulis ini semua.

Saya tidak ingin tulisan ini sebagai tempat penebus kesalahan saya, karena itu tidak mungkin! Dan bukan pula untuk memaksa anda mempercayainya, tapi inilah faktanya.

Hanya semoga ada yang memetik manfaatnya.

Dan saya berjanji untuk mengabdikan sisa umur saya untuk suami dan Doni.

Dan semoga Tuhan mengampuni saya yang telah menyia-nyiakan amanahNya pada saya.

Dan disetiap berdoa saya selalu memohon "YA Tuhan seandainya Engkau akan menghukum Maya karena kesalahannya, sungguh tangguhkanlah Ya Tuhan, biar saya yang menggantikan tempatnya kelak, biarkan buah hatiku tentram di sisiMu".

Semoga Tuhan mengabulkan doa saya.

-----------------------------------------------------------------------

Gue...
Gue FTM. Full time mom.
Gue jadi FTM lebih karena keadaan.
Hamil, mabok, sementara suami udah di luar kota. Maka daripada pusing ditengah jalan sambil nyetir motor trus kenapa-kenapa, mendingan gue out sekalian.

Waktu Darris udah lahir, gue tetep gak bisa balik kerja. Ibu gue bukan tipe yang bisa dititipin anak sementara gue kerja dengan tenang. Beliau, walau FTM, di rumah udah sibuk sendiri (ada asisten maupun ngga, sibuknya tetep sama :D). Maka gue seperti terjebak.

Gue bukan orang rumahan seperti ibu.
Gue suka ketemu orang baru. Gue gak suka suasana monoton.
Dan gue, yang modelnya begini, kudu stay di rumah (rumah ortu waktu itu).

Bisa ditebak, gue rada depressed.
Di rumah ortu (yang gue sering clash sejak gue bisa nalar), 24/7 (gue cuman keluar sebentar-sebentar ke minimarket, ke bank, kalo ibu belon nelpon gue mampir ke rumah temen yang jauhnya cuman beda gang dan masi satu RT), suami pulang dua minggu sekali (well, itu rata-rata, rekornya lima minggu), my mental is not quite healthy.

My life's plan goes to plan B.
Punya beberapa anak sebelum usia 35, trus balik ke 'dunia'. Balik jadi diri sendiri. Bukan si mama, bukan Ny. Suami.
Somehow, plan B cocok ama The Great Plan. Sebelum umur 31, insya Allah anak bakal udah 3. So maybe, just maybe, plan B might work.

Jadi gue sekarang tapa dulu di rumah. Ngurus dua (so far) pemberontak separatis ekstrim ini, hingga waktu berlalu dan mereka bisa mandiri jadi bisa gue tinggal. That's it. Just be patient.

Masalahnya gue bukan orang yang sabar.
Gue hobi liat kiri-kanan, dan suka iri sama perempuan lain yang walo anaknya dua, tiga, tetep bisa kerja. Meniti karir. Jadi 'seseorang'. Accountants, legal officers, jounalists, web designers, editors, managers, branch managers, region managers, just name it. Everything but just a mom. Because they still a mom. Being a mom, AND those other labels. While me, I'm just a mom...
Mereka bisa punya duit sendiri. Dari kerja kerasnya sendiri. Pengen apa-apa ngga sungkan karena harus pake uang dari suami, yang biasanya berjudul 'uang belanja kebutuhan bulanan keluarga'.

Di sisi lain, gue ngga tega ninggalin anak di rumah diurus pembantu doang kalo ngga ada keluarga sepuh yang ikut ngawasin.
Gue ngga bisa. Di jaman begini, gue ga punya nyali menyerahkan anak pada orang asing yang gue sama sekali gak kenal, dan dengan tenang pergi ke kantor mikirin urusan kantor.

So here I am, a bit twisted. Sometimes losing myself.
Dan cerita-cerita seperti diataslah yang bisa membangkitkan semangat gue (walo mungkin cuma sementara).

So...
What's the moral story?

Buat FTM: bersyukurlah dengan keadaan anda (gue ngomong sambil ngaca neh :D).
Anda bisa melototin anak anda setiap waktu (dan direpotin, diresein, ditantrumin, dijengkelin, kadang dibikin mau minggat aja). Memantau perkembangannya, andalah yang tahu lebih dulu kepinterannya yang baru (dan kenakalannya). Anda jugalah yang kelak akan bangga saat orang memuji anak anda "hebat ya, ya begitu kalo anak selalu diawasi/deket sama ibunya". Tapi hati-hati, anda juga yang akan kena bila "padahal ibunya gak kerja lho, kok anaknya bisa sampe gitu sih??". There's always two sides of a coin.

Buat working mom: pastikan asisten anda ganti tiap periode sekali, supaya ngga terlalu bonding dengan anak anda :D.
Kelak anda juga akan bangga bila ada yang memuji anak anda "hebat ya, padahal ibunya kerja lho..kok masi bisa ngedidik anak jadi pinter gitu ya". Tapi bisa juga "gitu dehhh klo ibunya kerja, anaknya kurang perhatian, jadi begitu...". There's always two sides of a coin.

Thursday, August 28, 2008

Kangennya Punya Pacar

HUSH!
bukan mo cari pacar baru!
tapi mo ikutan yang ini niiiiihhhh...pe er dari mbunya Nayaka =D

Kangen bisa pergi berduaan aja sama yayang...naek motor kena angin semriwing bisa peluk pinggang rapet-rapet...
(sekarang mah meluk pinggang dapet seuprit...kealangan dua brindils ini...dan eta meluk, bukan kemesraan lagi, tapi kewajiban...biar brindils yg hobinya tidur di motor, bisa kepegang dua-duanya, ngga jatuh...btw klo Darris mulai ngantuk di motor, tangan gue suka ditarik ke arah pinggang ayahnya, to make sure gue megangin dia sebelum bobo =D)

Kangen makan berduaan...
Sambil ngobrol tentang apa aja...tanpa harus di-pause ada yg minta ambilin minum, bersihin mulut cemot, jatuhin makanan, maenan tisu disuwir-suwir...
Palagi di tempat yang makannya pake tangan...ato mesti pake bakar-bakaran (resto jepang misalnya)...
Ngobrol about us, now and future...

Kangen nonton berduaan...
Kami ngga hobi banget nonton di bioskop...tapi kudu diakui once a while pengen juga nonton...terutama pilem yang efeknya nendang (kan jadi ga nendang klo nonton di tipi, secara ngga punya home theater =D)

Kangen jalan-jalan berduaan...
Gandengan tangan, jadi yang punya dunia, yang lain bulan depan kudu bayar kontrak...
Sekarang boro-boro gandengan sama (mantan) pacar, yg ada menggandeng (perhatiin, gandengan sama menggandeng *paksa* itu lain lho =D) krucil biar ga lepas ke lorong maenan dan nongkrong disitu ampe pulang...
Boro-boro bisa gandengan...yang ada tangan masing-masing penuh...ya itu tadi, klo gak menggandeng, ya menggendong...krucil gue klo pergi-pergi nabrak jam tidur, ya tau-tau tidur aja gitu...Darris jadi bagean gendongan ayahnya, Dellynn masuk kantong kangguru (which is already too small, secara buat anak sampe 9bulan/9kg)...

Kangen pacaran...
(bener kan? pacaran ga ada yang bawa rombongan kan?)
























Thursday, August 14, 2008

Akhirnya Resmi Deh

Setelah menunggu-nunggu seminggu...akhirnya semalem resmi juga deh...
Apanya?
Tar dulu nape...=D

Jadi critanya...dari setelah seminggu nungguin Darris pertama sekolah, minggu berikutnya emaknya ini langsung tumbang. Pilek, batuk parah...nggreges juga klo orang jawa bilang, kliyengan...Flu parah lah.

Ke dokter?
Ah, kek gak tau daku ajah
Ya udah akhirnya dibiarin aja batuk-batuk dan meler-meler itu...
Sampe minggu kemaren, batuk makin parah, badan juga makin ga enak...
Trus ngapain dong?
Testpack
Hasilnya? Ya sesuai perkiraan dan permintaan ...hehehe
Cuman nanti dulu...kan belon ke dokter...
Lagian minggu lalu si Ayah lagi dines seminggu di Jakarta...kita bener-bener ga bisa kemana-mana dah...

Baru semalem bisa ke Hermina di Pandanaran...
Kalo menurut perhitungan, kata dokter sih 6 minggu, tapi dari USG kayak 8 minggu...
(waduh, jangan kegedean lagi deh kek Darris =P)
Yah ntar diliat aja sambil jalan deh...

So far sih mual dikit, mulut pait...obatnya makan biar mulut gak pait =D
Ampe cape makan bok...
Tapi overall alhamdulillah jauh lebih ngebo timbang yg lalu-lalu (dan bener-bener berharap terus begitu sampe lahiran deh)...jaman si Darris 1/2 hari pertama pasti di kasur, gak bisa bangun...jaman si Delin udah berkurang, tapi masi kliyengan parah...kalo sekarang rebahan bentar2 aja udah nolong sih...
Dulu muntah-muntah, ampe abis...
Sekarang mual aja...dan walo napsu makan menurun, tapi etlis makanan masi bisa masuk...
Yang dulu2 makanan berubah semua di mulut, makanya jadi males banget makan...

Doain begini terus yak =)
Biar ngga keponthal-ponthal sambil ngurusin yg di rumah...
Secara judulnya kan hidup ala di luar negeri alias gak pake pembokat ato asisten =D
(berhubung blon bisa ke luar negeri, latian dulu lah...*alesan abes =D=D)
































Tuesday, July 15, 2008

2 jam di Bea Cukai

Critanya dirikuh ada kiriman (blanjaan onlen gituh, entah yang mana), eeeeeeehhh tau2 dapet panggilan dari kantor pos Semarang Erlangga, kena palak 151rb....
HOEEEHHHH???!!!

Kaget?
Embwer!
Soalnya blanjaan udah diitung secermat mungkin ndak mungkinlah sampe kena segitu (kalo berdasarkan perhitungan yg bener lho yaa..bukan itungan jadi-jadian...heheheh). Makanya, sebelum kesana, ngumpulin dulu bahan-bahan sanggahan untuk keberatan *halah!*, antara lain:
- print sharing di satu site tentang palak kiriman yg dinyatakan sebagai 'gift'/kado
- print invoice salah satu belanjaan yg dicurigai (diliat dari nominal palaknya kemungkinan $50-$60)
- print daftar bea masuk, yg ada statement "Total Value equal to US$ 50 or less, import duty are exempted" dari http://ems.posindonesia.co.id/custom.html.

Kepake?
Kaga...
Huehehehehehe...
Lha wong daku ngeprint invoice blanjaan yg lain =D
Ternyata sampe sana kirimannya ternyata belanjaan yg dari ebay, harusnya $34.05 (masuk kategori bebas pajak), tapi entah

gimana dari sononya tulisan ga jelas jadinya kebaca $102. Maka jadilah kena palak segitu. Tapi langsung diberesin kok waktu setor print out invoice aslinya. Sip dah.

Naaahhh, sambil nungguin dokumen diberesin inilah gue chit chat sama si Bapak BC. Mayan euy, dapet banyak ilmu. Diantaranya yang berikut ini:

1. Kiriman senilai $50 kebawah, bebas pajak dengan syarat:
a. bobot dibawah 20kg
b. bukan berupa barang banyak dengan nilai kecil. contoh: kancing 2 kerdus gede, tapi $40 =D
c. bukan kiriman yg berturut-turut dengan penerima yang sama. contoh: sehari 2x, seminggu 4 hari, kiriman $30-$40, semua ke Mega, alamat Jl. Ampera (peaceeee nek!! wakakakak). Kasus begini, kiriman yg duluan lolos, tapi yang belakangan kena. Oiya seminggu sekali ngga terhitung berturut-turut =D (katanya si bapak lhooo...)
d. tidak diatasnamakan kantor (PT, CV, dkk).

2. Ngga pernah ada aturan, paket yg dinyatakan as gift/kado itu bebas pajak.
Jadi ada maupun ngga ada invoice/cantuman value barangnya, akan tetap dikenakan pajak sesuai aturan.

3. Ongkos kirim, sebaiknya minta kepada seller untuk tidak ditulis dalam invoice. Karena yang diliat bea cukai adalah total invoicenya. Jadi klo mau menghindari pajak, ato setidaknya mengurangi beban pajak, ongkir ngga udah ditulis. Karena memang sebenernya ongkir ini ngga termasuk yang kena pajak sih.

4. Perhitungan pajaknya:
Contoh: nilai kiriman $70, kurs (biar gampang) $1 = Rp 10.000

Nilai yg terbebani pajak: $70-$50 (yg bebas pajak) = $20 = Rp 200.000,-

Bea Masuk: 10% x 200.000 = 20.000
(maka nilai kiriman jadi 220.000)

PPN: 10% x 220.000 = 22.000

PPh 21: 7,5% x 220.000 = 16.500

Jadi total pajak yg harus dibayar: 20.000 + 22.000 + 16.500 = 58.500
(kadang sama kantor pos ditambah lagi sekitar 10rb ongkos bungkus ulang, maka tarikan jadi 68.500 =D)

Catatan: prosentase bea masuk, ppn dan pph 21 ini adalah untuk kiriman jenis kosmetik yah...detil untuk jenis barang lain diantaranya bisa diliat di http://ems.posindonesia.co.id/custom.html.

5. Barang seken, terutama seken yg masi ada harganya semisal hape, bakalan dinilai 40% dari harga barunya. BC ngga ada perhitungan bahwa barang tersebut harganya beda disononya, ato bahwa barang tersebut hadiah dari sodara di US misalnya.
Contoh: Hape yg harga barunya Rp. 1.000.000,-, sekennya dinilai 40% = Rp. 400.000. Ngga ada pengaruh semisal si sodara nulis value 100 ato 200rb, bakalan tetep dianggep 400rb =D
(beacukai langganan tabloid PULSA untuk memantau harga hape sodara-sodara =D)
Jadi kalo yg nilai sekennya tetep diatas $50, akan dikenakan perhitungan seperti poin 4.

Ya udinda, yang inget baru segitu dulu =D
Semoga membantu mencerahkan *halah!*

Friday, June 27, 2008

Hati-hati belanja di http://vitaminplus.multiply.com!

Saya sudah posting kasus ini di multiply saya: http://kirana21.multiply.com/journal/item/104

Sebelumnya saya tekankan, bahwa online store ini MUNGKIN tidak berniat menipu. Tapi dalam kasus saya JELAS2 LALAI, dan menimpakan kesalahannya tersebut kepada saya selaku customer.

Jadi ceritanya, saya ketemu link ini (http://vitaminplus.multiply.com/photos/album/5/SALE_ORIGINAL_BRANDED_SKIN_CARE , konten sudah di delete sejak saya posting di multiply saya), trus saya beli satu set krim siang dan malam, Clinique seri Repairwear seharga 300rb/set (2 biji). Saya transfer pembayarannya tgl 28 Mei 2008. Barang sempat salah kirim, yg sampai pertama kali set lain isi 3 biji. Tanpa meminta maaf, seller menyuruh saya kirim balik. Saya kirim balik dengan ongkos pribadi. Barang pengganti dikirim. Barang yg terakhir ini tidak tersegel sebagaimana barang yg salah yg pertama kali. Hanya dimasukkan plastik berklep seperti plastik tempat obat dari apotik.

Barang yg saya peroleh, ternyata krim malamnya sudah rusak. Warnanya coklat, teksturnya memadat hingga tinggal separuh dari wadah potnya, dan baunya meski samar, mulai tercium bau lilin, bukan parfum lembut seperti biasanya krim yg bagus. Meski saya sempat ragu2, tapi karena krim siangnya ga ada masalah, saya sempat pake krim yg rusak 2-3x, sampai akhirnya kroscek ke teman apa krim ini teksturnya masi bagus. Saya juga sempat kena jerawat kecil2/bruntusan yg dimungkinkan karena krim yg rusak itu, karena setelah saya hentikan pemakaiannya, jerawat ilang lagi.

Saya juga sempat browsing mencari perbandingan foto isi krim yg tidak rusak dari situs2 online shop. Sebetulnya dari dus barang sendiri sudah jelas terlihat perbedaannya. Harusnya krimnya putih susu, dan tekstur tidak padat. Bertekstur krim sebagaimana umumnya, dan seperti krim siangnya, walau yg krim siang warnanya pink (sama seperti gambar2 lain dari web dan gambar dikemasannya). Dan ke konter resmi Clinique untuk melihat krim aslinya seperti apa (tapi di waktu ini saya tidak memfotonya dan tidak menanyakan ke Salesnya).

Saya minta solusi atas masalah ini lewat sms (karena saya berusaha hemat telp secara lokasi saya di Semarang, sementara seller di Jakarta), tapi seller bersikukuh bahwa barang sudah dibuka dan dipakai, tidak mungkin diganti.

Lhaaa...barang rusak kok...
Kalau barang tidak rusak, walau saya jadi jerawatan, bisa jadi saya tidak berhak meminta ganti/komplain. Saya persilakan seller bila mau mengganti barang yg rusak saja dengan barang yg bagus, atau mengembalikan uang saya separuh.

Tapi seller jawabnya muter2:
- barang sudah dibuka & dipakai, tidak mungkin dikembalikan/diganti (tidak masuk akal karena tanpa dibuka, mana saya bisa tau barang rusak atau tidak)
- seller menjual barang per set, jadi tidak bisa diambilkan barang pengganti dari set lain (padahal krim siangnya saya yakin tetep akan bisa terjual kalau dijual terpisah)

.... dan malah menuduh saya seperti:
- mengurangi isi kemasan (karena tinggal separuh, padahal memang begini kalau krim kadaluarsa dan memadat)
- membandingkan KUALITAS dengan produk lain (saya sempat membandingkan tekstur dan warna krim rusak dengan Oriflame Tendercare HANYA SUPAYA seller paham seperti apa realitasnya, jadi saya tidak bicara KUALITASNYA, karena peruntukannya memang beda)
- menghancurkan bisnisnya (kepentingan saya apa atas rusaknya bisnis dia?? saya jelas2 tidak punya bisnis yg berkompetitor dengan bisnis dia)
- menteror sms (lha saya menjelaskan kondisi barang per sms, pasti butuh lebih dari 1x160 char sms lah. saya beberapa kali sms 2x160 char, sementara seller sibuk ngeles, menuduh saya, bahkan memaki saya dengan balasan 4x160 char dalam beberapa kali sms).

Sampai akhirnya seller menyuruh saya membandingkan dengan produk yg ada dikonter, meminta pernyataan dari Sales bahwa barang tersebut memang rusak/kadaluarsa seperti yg saya bilang, dan dia mengancam akan mengurus hal ini ke Clinique Jakarta untuk membuktikan bahwa dia tidak seperti yg saya tuduhkan (lha saya ngga menuduh apa2, cuman mau minta tuker barang kok jadi ribet =P).

Fine, saya ke konter, memfoto barang rusak saya dijejer dengan tester dari konter. Si mbak sales juga menyatakan bahwa barang tersebut, kalo palsu mungkin ngga, tapi pasti rusak atau kadaluarsa (persis seperti dugaan saya, tidak pernah terlintas juga di saya kalau barang tersebut palsu).


*foto perbandingan antara krim saya yg rusak dg tester dari konter Clinique*

Sampai hari ini, hanya ada satu respon dari seller berupa posting komen di multiply saya, yg isinya tetep seperti smsnya. Ngeles, menuduh balik, dan tidak ada solusi.
Selain itu tidak ada respon dari seller padahal saya sudah PM multiply, sms. Yang ada cuman beberapa komen lagi dari orang lain yg gaya bahasa, kalimat, dan cara nulisnya persis seperti seller. Dan seller mendelete link ke barangnya yg saya cantumkan di posting saya, sekaligus memblock saya dari akses ke multiply online shopnya.

Saya sudah mencatat data nama dan rekeningnya di halaman depan http://vitaminplus.multiply.com.
FOR ORDER SMS TO :
HP : 0818-724480 ATAU HP : 021- 99561189

TRANSFER PEMBAYARAN KE :
A/N : VERA THERESIA T
BCA : 624-0138857
BNI : 000 4318372

Saya juga masi simpan alamat kantornya karena waktu itu saya sempat kirim balik barang yg salah.
Wisma GKBI, lt 20 room 2002
Jl. Jend Sudirman no 28
Jakarta Pusat 10210

Semoga ini menjadi pelajaran bagi yg lain.
Bila ada yg mengenal seller ini saya minta tolong dong dibantu

Terima kasih banyak,
Kirana

ps:
- foto2 dan komen2 yg lebih jelas dapat dibaca di posting Multiply saya http://kirana21.multiply.com/journal/item/104